Beberapa menit kemudian aku kembali, dengan seekor kuda besi milik tetanggaku, dengan berat hati aku terpakasa meminjam nya, hanya karena tak ingin membuat mereka kecewa.
Di jalan deritaku masih saja ada, panasnya lumayan terik, silau jalanan, aku berada di paling belakang di antara rombongan.
Wadaaaawwww, aku cemburu melihat mereka, bermesraan di motor sana, di peluk dari belakang, kayanya empuk banget tuh senderan,,, hikz hikz kalau bukan untuk sahabat mungkin saja aku sudah pulang. Aku tancap gas dengan kencang, sehingga aku berada di barisan depan, bukan apa-apa, setidak nya jika di berada di depan, aku gak akan ngeliat mereka bermesraan seperti itu.
Sampai di lokasi, segera kita mencari tempat untuk sekedar duduk dan meluruskan kaki kita. Masih saja deritaku di taburi bubuk-bubuk pedih yang lain, mereka berfoto-foto ria, berpose mesra, saling berpeluk, dan aku??? hanya jadi fotografer dadakan, membidik objek-objek yang sangat aku kenal, menyulut api iri yang aku rasa.
"cape, lanjut nanti deh, sok aja kalau mau main, gua istirahat di warung sana ya.." Ucap ku sekenanya, cuman supaya bisa berhenti melihat mereka bermesraan dan menghentikan iri yang ada di hati ku terus tumbuh.
Aku melamun, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang bapak-bapak yang terlihat gagah dengan kumis melintang di atas bibirnya. sepertinya gagah banget.
Terbesit di pikirainku, mungkin aku akan menumbuhkan kumis saja.
Sekiranya setengah meter saja di sebelah kiri dan setengah meter juga menjulang ke arah kanan, bukan kumis tipis bak ikan lele itu.
Mungkin aku akan terlihat jantan dengan itu.
Hanya dengan satu kali lirikan wanita akan langsung kelojotan apa lagi jika sambil ku tiup-tiup kumisku sedikit mengapung naik turun bak melambai-lambai, mereka pasti pada jatuh terkapar dengan mata terbelalak. Hmmm mungkin itulah pesona ku, jadi aku hanya perlu menumbuhkan kumis saja, lalu dengan apa aku harus menumbuhkannya? ramuan apa yang harus aku makan?
Baiklah, aku tanya saja pakarnya. mbah google.
Tanpa basa-basi tanpa sesajen pula, hanya butuh sedikit pengetahuan tentang internet, maka segala pertanyaan akan terjawab disana.
Banyak sekali tips dan trik yang aku dapat untuk mempercepat tumbuhnya kumis, hingga aku bingung, mana yang pertama kali akan di praktekan.
Ada yang mengusulkan untuk menggunakan ramuan arab AlZembuta, Ada pula yang mengusulkan untuk mencukurnya habis lalu mengolesi nya dengan Balsem di campur Minyak Jelantah, ada pula yang mengusulkan melumurinya dengan minyak zaitun di campur kecap manis.
Haahhh sepertinya bukan kumis yang tumbuh, tapi semut yang bejejer membentuk kumis di atas bibirku.
Kembali mataku terperangai kepada sesosok Bapak yang berjanggut dan berbaju putih, tampak bijak sekali, atau aku harus menumbuhkan janggut saja? agar terlihat arif atau bijak, sesuai dengan namaku.. Okelah aku aku akan menumbuhkan janggutku, bila perlu akan ku cat putih seluruhnya, agar terlihat dan tampak semakin bijaksana.
aku nyengir kuda, sendirian, membayangkan aku yang akan terlihat sangar dan kekar serta mampu melindungi kaum hawa dengan kumis ku yang panjangnya satu meter, dan juga akan terlihat arif bijaksana serta di hormati karena janggut ku yang menawan layaknya para syeh terutama syeh puji yang punya istri banyak, yang menurut pandanganku karena janggut dan kumisnya yang mampu mengikat mereka semua.
Ahhhh namun sesuatu merubah sudut pandangku, tatapku terarah pada si bapak berkumis yang sedang makan itu, dia di marah-marahi wanita di sampingya, entah itu pacarnya, istrinya atau emaknya yang jelas dia sangat ketakutan, beberapa nasi pun menempel di kumisnya yang tidak rapi itu.
Ternyata kumis tidak menjadi ukuran dia seorang pejantan kekar dan tak takut apa-apa. yang lebih parah lagi, itu nasi nempel di kumisnya yang tidak begitu panjang, apa lagi dengan kumisku yang nanti panjangnya satu meter?? bisa-bisa 4 sendok nasi akan terkumpul dan bergelantungan di kumis ku, hoaalllaahh bisa mengurangi jatah makan ku itu, biarpun hanya 4 sendok.
Yasudah ku urungkan niatku untuk memiliki kumis, biar janggut saja yang ku panjangkan.
Namun seketika kemauanku pun berubah setelah melihat si bapak yang aku kira arif nan bijak itu di gelandang polisi, dia menjadi tersangka teroris, wah gawat juga jika harus di gelandang ke kantor polisi hanya karena jenggot yang melebihi dadaku ini. Ampun jadi apa yang harus aku perbuat agar ada satu hal saja yang bisa aku banggakan dan bisa di elu-elu kan oleh orang.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer






0 komentar:
Posting Komentar