RSS

Bisa. Aku Bisa Ikhlas II

Beberapa menit kemudian aku kembali, dengan seekor kuda besi milik tetanggaku, dengan berat hati aku terpakasa meminjam nya, hanya karena tak ingin membuat mereka kecewa.
Di jalan deritaku masih saja ada, panasnya lumayan terik, silau jalanan, aku berada di paling belakang di antara rombongan.
Wadaaaawwww, aku cemburu melihat mereka, bermesraan di motor sana, di peluk dari belakang, kayanya empuk banget tuh senderan,,, hikz hikz kalau bukan untuk sahabat mungkin saja aku sudah pulang. Aku tancap gas dengan kencang, sehingga aku berada di barisan depan, bukan apa-apa, setidak nya jika di berada di depan, aku gak akan ngeliat mereka bermesraan seperti itu.
Sampai di lokasi, segera kita mencari tempat untuk sekedar duduk dan meluruskan kaki kita. Masih saja deritaku di taburi bubuk-bubuk pedih yang lain, mereka berfoto-foto ria, berpose mesra, saling berpeluk, dan aku??? hanya jadi fotografer dadakan, membidik objek-objek yang sangat aku kenal, menyulut api iri yang aku rasa.
"cape, lanjut nanti deh, sok aja kalau mau main, gua istirahat di warung sana ya.." Ucap ku sekenanya, cuman supaya bisa berhenti melihat mereka bermesraan dan menghentikan iri yang ada di hati ku terus tumbuh.

Aku melamun, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang bapak-bapak yang terlihat gagah dengan kumis melintang di atas bibirnya. sepertinya gagah banget.
Terbesit di pikirainku, mungkin aku akan menumbuhkan kumis saja.
Sekiranya setengah meter saja di sebelah kiri dan setengah meter juga menjulang ke arah kanan, bukan kumis tipis bak ikan lele itu.
Mungkin aku akan terlihat jantan dengan itu.
Hanya dengan satu kali lirikan wanita akan langsung kelojotan apa lagi jika sambil ku tiup-tiup kumisku sedikit mengapung naik turun bak melambai-lambai, mereka pasti pada jatuh terkapar dengan mata terbelalak. Hmmm mungkin itulah pesona ku, jadi aku hanya perlu menumbuhkan kumis saja, lalu dengan apa aku harus menumbuhkannya? ramuan apa yang harus aku makan?
Baiklah, aku tanya saja pakarnya. mbah google.
Tanpa basa-basi tanpa sesajen pula, hanya butuh sedikit pengetahuan tentang internet, maka segala pertanyaan akan terjawab disana.
Banyak sekali tips dan trik yang aku dapat untuk mempercepat tumbuhnya kumis, hingga aku bingung, mana yang pertama kali akan di praktekan.
Ada yang mengusulkan untuk menggunakan ramuan arab AlZembuta, Ada pula yang mengusulkan untuk mencukurnya habis lalu mengolesi nya dengan Balsem di campur Minyak Jelantah, ada pula yang mengusulkan melumurinya dengan minyak zaitun di campur kecap manis.
Haahhh sepertinya bukan kumis yang tumbuh, tapi semut yang bejejer membentuk kumis di atas bibirku.
Kembali mataku terperangai kepada sesosok Bapak yang berjanggut dan berbaju putih, tampak bijak sekali, atau aku harus menumbuhkan janggut saja? agar terlihat arif atau bijak, sesuai dengan namaku.. Okelah aku aku akan menumbuhkan janggutku, bila perlu akan ku cat putih seluruhnya, agar terlihat dan tampak semakin bijaksana.
aku nyengir kuda, sendirian, membayangkan aku yang akan terlihat sangar dan kekar serta mampu melindungi kaum hawa dengan kumis ku  yang  panjangnya satu meter, dan juga akan terlihat arif bijaksana serta di hormati karena janggut ku yang menawan layaknya para syeh terutama syeh puji yang punya istri banyak, yang menurut pandanganku karena janggut dan kumisnya yang mampu mengikat mereka semua.


Ahhhh namun  sesuatu merubah sudut pandangku, tatapku terarah pada si bapak berkumis yang sedang makan itu, dia di marah-marahi wanita di sampingya, entah itu pacarnya, istrinya atau emaknya yang jelas dia sangat ketakutan, beberapa nasi pun menempel di kumisnya yang tidak rapi itu.
Ternyata kumis tidak menjadi ukuran dia seorang pejantan kekar dan tak takut apa-apa. yang lebih parah lagi, itu nasi nempel di kumisnya yang tidak begitu panjang, apa lagi dengan kumisku yang nanti panjangnya satu meter?? bisa-bisa 4 sendok nasi akan terkumpul dan bergelantungan di kumis ku, hoaalllaahh bisa mengurangi jatah makan ku itu, biarpun hanya 4 sendok.
Yasudah ku urungkan niatku untuk memiliki kumis, biar janggut saja yang ku panjangkan.
Namun seketika kemauanku pun berubah setelah melihat si bapak yang aku kira arif  nan bijak itu di gelandang polisi, dia menjadi tersangka teroris, wah gawat juga jika harus di gelandang ke kantor polisi hanya karena jenggot yang melebihi dadaku ini. Ampun jadi apa yang harus aku perbuat agar ada satu hal saja yang bisa aku banggakan dan bisa di elu-elu kan oleh orang.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bisa. Aku Bisa Ikhlas I

Liburaaaaannnnnnnnnn......... Yeeeeee.
Sekolah sengaja di liburkan, untuk beberapa hari, karena memang di sekolah sedang ada sesuatu yang entahlah apa itu, yang katanya urusan intern para petinggi disana.
Apa yang harus di lakuin kalau libur gini??
Bingung, mungkin jika aku punya sesosok makhluk yang lahir dari bagian tulang rusuk ku, tak akan merasa bingung seperti ini, mungkin aku sudah ajak dia untuk pergi jalan-jalan, nonton kebakaran atau hanya sekedar makan es cendol di sebrang gang sana.
Aihhh sesedih ini kah hidupku?? Masa liburan ini harus aku habiskan hanya dengan berdiam diri di rumah.
Pikiran ku melejit menerawangi sahabat-sahabatku. Membandingkan diri sendiri dengan mereka.
Ahh si Eka apa sih dia?? dia cuman punya kulit putih tampang cool dan wawasaannya yang extrim. Aku punya......seketika hening... mungkin aku bandingkan dengan si Aldy..
Apa sih si Aldy, dia ga bisa apa-apa, cuman jadi kapten basket terus pernah mewakili sekolah hingga juara dua olimpiade matematika se-kabupaten.
Aku pernah menjadi.....batinku berhenti berkata, jadi apa aku??? Mungkin aku menang melawan si Juli.
Ini nih si juli yang kurus, badan aku lebih ada isinya, meski hanya di bagian perut, prestasinya hanya di olimpiade fisika, dia tidak akan menang kalau tidak ada si Lulu dan si Yosep saat olimpiade itu, pemain terbaik saat kompetisi futsal antar sekolah, pencetak gol terbanyak, dan juara pertama saat debat antar sekolah di satu Universitas Negeri hingga dapat tawaran beasiswa.
Aku nih......masih saja mandek, prestasi apa yang aku punya???
Si Amir, kucel, jorok jarang mandi, tukang tidur, cuman mukanya aja yang melebihi kodrat, arjuna aja kalah sama dia. Aku??? dan aku??? aku apa?? apa yang aku punya???? wajar saja tak ada yang mau melirik aku. Ya Tuhan, dosa apa yang di buat leluhurku sehingga kutukan ini kau sematkan pada diriku???

Aku melirik ke arah cermin di sana, mengehala nafas panjang.
Mulai bercermin, senyum-senyum, berpose miring, berbalik, merunduk, dan berdiri tegap. ya Tuhan aku ganteng juga ternyata, keren. Biar ada bekas jerawat di hidungku, itu kan cuman dikit, ga terlalu terlihat, jidatku melebihi kapasitas, ahh masih bisa aku tutup oleh rambut poni ku ini, hidungku juga sepertinya over load tapi tak apalah, masih bisa tertutup oleh tatapan tajam mataku. Hmmmm betapa kerennya aku...
Otaku mulai bersenggama dengan bisikan batinku yang terus mengumandangkan kalimat "Betapa kerenya aku". Otak mulai menyalurkan sugesti nye ke bibir ku, dan mulai senyum-senyum sendiri, ke mata mulai memberi pemandangan indah berbunga-bunga, ke hidung menciptakan wewangian bunga tersebut, yang wanginya mampu mengalahkan toko parfum refill yang ada di ujung jalan sana, yang sering aku lewati ketika berangkat atau pun pulang sekolah.

Tiba-tiba saja pintu kamar ku di buka mereka, "Wooyyy ngaca aja kerja lu, jelek ya tetep jelek lah, ampe tu kaca retak berjamur dan lumutan, jelek di muka lu udah dominan, ga akan pernah berubah, dia uda berdomisili tetap di muke lu itu"

Anjreeettttt....
Sumpah sakit, secepat suara itu mencapai gendrang telingaku, secepat itu pula hati aku terinfeksi guyonan pedas dari mereka yang memang sangat di niatkan untuk meledek.
Remuk jantungku, sakit hatiku, gubug derita ini bermain dengan hati ku hingga musnah dengan sempurna. Aku marah, ingin benci, ingin terlahir kembali sebagai pangeran berkuda putih berdompet tebal berkacamata hitam dan bersepatu mengkilat.
"Apa sih?? ganggu saja orang sedang ngelamun, maksudnya apa ngatain gua kaya gitu?"
Amarah ku memuncak dengan bibir yang masih monyong-monyong atau emang sudah kodrat nya??? Aahhh Whatever lah, yang jelas semakin kalimat itu di simpan di hati, semakin naik tensi darah ku ini, ga ada gunanya ini di piara di dalam kandang hati, lebih baik aku ngandangin angsa aja, yang sudah jelas telurnya mahal, dan siapa tahu dia bisa bertelur emas kaya di dongeng-dongeng.

"wkwkwkwkw santai brad, becanda doang, main yu, dari pada di rumah ga karuan, kita belah jalanan kota karawang" Si Aldy berkomentar.
"Nyokk.." Jawabku singkat....
Ternyata deritaku masih saja ada, di luar rumah menunggu si Juli dengan pasangannya, si amir juga dengan pasanganya, ada si Silvi juga temen deketnya si Aldy, yang sudah pasti cewek.
"gua dimana??? ama siapa???" tanya aku bingung
"Bawa motor dong, kita jalan-jalan bareng, tapi lu bawa motor sendiri" Jawabnya Eka, dengan amat sangat enteng.
"Ga ikut deh, motornya lagi di pake babeh buat nyari duit" Aku memberi saran kepada mereka untuk tetap berangkat saja tanpa aku ikut dengan mereka.
"Lu ga ikut, kita ga jadi sob" Si Juli menyambut saranku dengan kalimat tersebut.
Terlihat tampang kecewa dari wajah para pasangan mereka, aku yakin kalo sahabat-sahabtku ini tidak mempermasalhkan jika rencana tersebut gagal terlaksana, tapi lain lagi dengan pasangan mereka.
Aduuuuuhhhhhh...... Aku jadi dilema, apa yang harus ku perbuat, aku memutar otak, menjungkir balik kan pikiran, hmmmm,,
"tunggu deh bentar." Kata ku



Bersambung...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Awal V

Cling Cling Clingg..... Dua buah uang logam gopean di jatuhkan ke meja tempat kami berkumpul tadi.
"Tolong bawakan aku sebuah makanan yang mengandung lemak. vitamin serta karbohidrat dalam dua sajian sederhana" Pinta sang Einstein sambil mengedipkan matanya ke arah kami, kami bengong saja, makanan apa yang mengandung itu semua dengan harga 2 buah logam 500 an ini???
"Apaan Jul??? mana ada jajanan kaya begitu, gopean pula??" Tanya si Aldy bingung pula.
"Bawain aja ba'wan sayur dari warungnya Bu Tuti" Misteri terpecahkan oleh 4 orang cewek yang dateng menghampiri kita. Ani, Lulu, Lala dan Desi.
Bener juga, ba'wan sayur pan sudah adda itu semua, ada wortel, sayuran, terigu juga minyak yang mengandung lemak.
Mereka, 4 orang yang juga selalu mengisi lembaran buku cerita kami di SMA,
Desi teman sekelas si Aldy waktu kelas 1 dulu, awalnya mereka tidak terlalu akrab, dan akhirnya malah menjadi salah satu dari kami, hanya gara-gara si Eka yang keranjingan internet kebingungan mencari pulsa utnuk memuaskan hasrat ber-Internet nya, bak Malaikat yang tiba-tiba saja jatuh menimpa genteng kelas tembus terus menerobos langit-langit kelas kami yang penuh dengan butiran-butiran permen karet bekas yang sengaja di tempelkan dengan cara di lempar.
Dengan nada manis, semanis gula non Kalori yang tidak membuat naik kadar gula yang menyebabkan diabetes. Seindah butiran embun pagi hari yang menempel lekat di bunga Kamboja yang tertanam menjulang indah di area pemakaman depan rumah si Eka.
"Ehh , Kamu mau beli pulsa? di Aku aja, gak apa-apa bayar besok juga, kita kan satu sekolah. lagi pula aku kenal sama si Aldy" 
Yupzz kalimat itulah yang mengawali masuknya dia dalam hiruk pikuk persahabatan kami.

Lulu si gaul yang tidak mau kalah dalam hal positif, mengawali karir nya dalam persahabatan kami dalam suatu Olimpiade Fisika, yang waktu itu dia di partner-kan bersama si Juli, rambatan cahaya pun mungkin kalah dengan kecepatannya mengakrabkan diri, gampang beradaptasi dengan hal baru begitupun dengan kegilaan kami di mampu dengan cepat mengimbangi ledekan, ocehan, dan fitnah-fitnah yang kami cercakan kepadanya yang semuanya hanya terjadi diantara kami.
Gadis paling tangguh diantara yang lain, tergila-gila akan Tim Sepak Bola Negara Jerman, saking tangguhnya, tak ada cowok yang berani dekati dia, entah kenapa, padahal menurutku mukanya tetep manis dengan tatapan matanya yang selalu terlihat sinis, bibirnya yang bawel menandakan dia selalu optimis. Jutek, memang gak akan aku sangkal, tapi di balik itu, dia pribadi yang care terhadap sahabat-sahabatnya.

Ani Manis, berkulit eksotis, korban Mode dan paling manja di antara yang lain, pribadi yang setia dan selalu ingin terlihat sempurna, teman sekelas Lulu dari kelas satu dulu. Penampilnnya yang nyentrik membuatnya di kenal se-antero penghuni sekolah, di samping itu, di memiliki otak yang blink dalam segala hal, ide-ide nya yang kreatif tak ayal membawa sekolah kita pada posisi pertama dalam setiap perlombaan.
Sering berkhayal bahwa dia adalah putri dari sebuah kerajaan nan indah, namun dia tersesat di sebuah hutan tanpa penghuni, yang di kuasai oleh beberapa penyihir yang memiliki kekuatan magic tertentu, menunjuk aku sebagai penyihir berpenampilan paling buruk, yang bisa membuat layu bunga satu taman dengan hanya sekali tiupan nafas. Menunjuk si aldy sebagai monster menyeramkan namun menyembunyikan wujud aslinya di casing non original yang di dapat dari memangsa pangeran tampan yang mau menyelamatkan dirinya.
Ahhh hayalannya membuat kami berdecak aneh.

Lala, cantik! kata pertama yang bakal keluar dari mulut orang yang ngeliat dia. Dancer, supel, pinter. Kritis. Mungkin bisa di bilang perfect. Jembatan kita untuk berkomunikasi dengan guru, dialah telik sandi kami, mata-mata paling tajam. berkat dialah, segala informasi tentang sekolah pasti selalu sampai kepada kami, baik informasi event, ataupun wacana dan rencana apapun yang akan di lakukan sekolah dan osis, dia pasti lebih tau. Spirit booster, dalam segala hal apapun dialah yang selalu menjadi pemeberi semangat, paling ceria diantara yang lain, sesedih apapun, sesakit apapun, senyum atau tawa tak pernah sedikit pun lepas dari bibirnya. Bawel, apa lagi menyangkut hal-hal kebaikan untuk sahabatnya.

Tawa kami bersenggama dengan riuh ricuh suara decak bibir kami melahap habis makanan yang sedari tadi memanjakan para cacing yang semakin kewalahan menangkap pecahan makanan yang jatuh melewati kerongkongan, tangan terus menyuplai, dengan piawai bibir saling menjauh, lidah bergoyang dan gigi memukul , meratakan dan menghancurkan setiap bentuk apapun yang ia temui di dalam mulut.

"kawaita kaze wo karamase, anata wo tsuruteku no sa"
 Hp si eka berbunyi, tanda ada sebuah pesan yang terlempar ke kotak masuk di sana.
Eka tersenyum, tepatnya sih nyengir.
"Sebentar, ai gua mau kesini, bawa makanan" Sekarang bukan hanya si eka saja yang nyengir, aku pun senyum-senyum saja mendengar makanan akan menyambangi tempat kami berkumpul.
"Hai kaka, duh ngerumpi apa sih, sepertinya seru, silvi ikut ya"  Suara manis yang menandakan kalaau si pemilik adalah seseorang yang feminim dan girlly, anggun dan cewek banget gitu. Yaa, Silvi Maulida, gadis kelas satu yang bisa membuat pangeran dari jepang ini melemparkan samurainya dan bertekuk lutut memohon ampun meminta dan mengemis balasan cinta. Silvi Maulida?? Kok di panggil Ai? Sudah di bilang dari awal, Eka adalah sesosok makhluk yang sangat terobsesi pada negara tempat lahirnya naruto di sana, apa pun itu pasti tidak akan lepas dari attribut yang berbau negara tersebut, tak lepas juga tentang hal hati. Ai (愛) adalah cinta dalam bahasa nya Naruto.
"Silvi kemarin belajar bikin kue, vi bawa aja ke sini, mudah-mudahan kakak mau nyobain ya,  kalau enak bilang enak ya, kalau ga enak kira-kira kurang apa, nanti besok di perbaiki" Silvi menawarkan apa yang di bawanya tersebut, wangi baunya, sepertinya manis, ahhh masa bodo mau manis, mau pedes, mau gurih yang penting cacing-cacing ini bisa tidur minimal sampai besok pagi. 5 detik berlalu, tak ada sisa lagi kue tersebut di tempatnya, semua sudah berpindah ke tangan kami, tak berfikir panjang, tampilannya memanjakan mata dan magnet di perutku sudah menarik-nariknya, langsung saja kami lahap.
satu gigit saja sudah membuat kami hening, tak ada sepatah kata yang terlontar.
"enak ga???" tanya silvi penasaran.
watdefak, cake apa asin gini, seperti ada rasa bakso ikan juga, aku memandang lulu, dia tersenyum, si ani berkeringet, si aldy matanya berair, si amir??? tetep aja dia lahap.
"Enak banget ai, manis kaya kamu, tapi manisnya tidak bikin kita diabet, iya gak sob?" Jawab si eka
Dusta dalam cinta, hadah sudah mulai terjadi disini, beginilah orang jika sudah di butakan oleh cinta, bukan hanya mata, bukan hanya hati, tapi seluruh Indra yang di miliki pun akan menjadi buta.
"heee" aku senyum saja "enak, vi tapi kayanya ini bikin seret, gw beli minum dulu ya" lanjut ku.
"Ipin ikut" Si Lulu beranjak dari tempat duduk nya.
Ani dan Juli berpandangan, lalu bebarengan memandang ke arah Eka kemudian senyum . "gw ke kamar mandi dulu ya" Ucap Juli dengan makanan yang masih mulutnya, enggan sekali dia mendorong melewati kerongkongannya.
"Vi ga bakat bikin kue ya bie? kayanya ga enak deh" Adu nya kepada eka, dengan nada seperti kecewa.
"Dih enak tau ai, mereka aja yang ga tau rasa, tidak punya cita rasa tinggi seperti aku, nih aku makan ya semuanya, enak banget" Eka menghibur bidadarinya sambil mengambil potongan kue yang aku simpan kembali di kotaknya, melahap semuanya, meski terlihat keringet yang keluar dari dahinya, matanya pun berair merasakan ke tidak karuannya rasa dari cake tersebut, hanya tampilan saja yang mengundang selera.

Aku kembali, tapi tak tega untuk kembali bergabung berdsama 2 sejoli, melihat mereka sedang bercanda, senyum dan tertawa saling memanjakan, serasa kelas itu milik mereka berdua. Loh si Amir sih ngapain disitu kalau kelas cuman milik mereka, anggap saja si Amir penunggu kelas yang memang sengaja di datangkan untuk menjaga kelas tersebut tetap terjaga kebersihannya, kerapihannya dan keamanannya.

Aku senyum melihat mereka, berbalik badan dan ku lihat si Aldy seperti biasa sedang meladenin Fans dia, yang lain mana, Ku lihat Lulu dan Juli sedang asik membahas satu buku yang sepertinya otaku tidak akan sampai jika harus bergabung, aku urungkan niatku.
"hahhhh" aku menghela nafas panjang, ada pula sisi di mana aku kesepian

Bersambung.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Awal IV

8 rounde game pun udah terselesaikan, skor berakhir dengan 4 untuk Eka 3 untuk Amir dan 1untukku, memang aku terlahir untuk tidak punya ke ahlian untuk masalah seperti ini, halah melawan si Amir yang keliatannya males dan ga pernah sungguh-sungguh dalam hal apapun masih saja aku kewalahan.

Tiba-tiba riuh ricuh kegaduhan berhenti seketika, keringat dingin aku pun kembali mengucur, Bu Mira datang, dengan langkah tegas beliau memasuki ruangan kelas kami. Terlihat jelas sorot mata yang menggambarkan apa yang ada di lembaran kertas-kertas yang di peluk erat dalam dekapannya.

"pagi anak-anak, sudah siap dengan ulangan hari ini??" Sapa dan tanya Bu Mira dengan nada yang sangat tegas, kemudian beliau tersenyum sinis.
Kepalaku mulai pening, mual gak karuan, sekelilingku terlihat kabur, gerakan mereka seperti slow motion, tak ada suara, hening tapi masih terlihat mulut teman-temanku masih bergerak, namun tak ada suara yang terdengar.
Plookkkkk..... Pundaku di tepuk.
"Kenapa pin??" tanya si amir
"Aroma busuk dari rumus-rumus udah kecium sob, bawaannya mual, kayanya tu racun udah menembus ke dinding saraf gua sob" jawabku masih berkeringat.
"wkwkwkwkwkwkwkwk lebay banget, tenang aja, ga usah gugup gitu sob, ini kan cuman ulangan harian, gak nentuin lo bakal lulus atau tidak nanti" Hibur si Aldy
Aku nyengir, mengelap keringat dingin yang terus mengucur dari jidat lebar ku.

Dan sekuat apapun hati ku menguatkan mental untuk tetap berada di posisi normal, tidak merunduk, apa lagi meringkuk, semuanya sia-sia, sama sekali gak ada gunanya, setelah lembaran soal itu sampai di meja aku, semua berubah, pandangan mulai gelap, apa lagi setelah aku lihat lambang-lambang dan bentuk karakter aneh yang apalah itu, pening kembali menghiasi isi kepalaku yang entah segede apa isinya.
Gak ada setengah jam, si Aldy selesai mengerjakan semua soal yang di sajikan tersebut, di susul si Eka, kemudian beberapa temanku yang lain.
Dan aku??? Satu soal pun belum mampu aku kerjakan.
"Komik naruto No.1 ada berapa halaman sih ka?/" Tanya si Aldy
"Ada 23 Kali, Ya 4 sub judul kalo tidak salah" Jawab Eka
Ahh mereka mentang-mentang udah kelar ngerjain soal, sempet saja membahas komik, aku masih bingung dengan soal-soal yang ada di meja, sebenarnya ya tinggal di jawab saja, karena aku sama sekali tidak mengerti, jadi apa yang harus aku lakukan..
"ehhh dy, Episode 5 serial Fairy Tail ada perangnya lo, si Natsu ngeluarin 14 Jurus dengan Jari-jarinya, dan lompat dari ketinggian 27 lantai" Si eka mengabarkan ke Aldy.
Ahhhh ada lagi Fairy Tail, tapi kenapa mereka membahas semua yang ada nilainya ya? aku berfikir keras, dan terungkap lah sudah rahasia di balik pembicaraan si Eka dengan si Aldy, aku melirik si Amir, ternyata dia lebih peka dari aku, dengan santai dia mendengarkan apa yang akan di bicarakan si Aldy dan si Eka sesekali tanganya menulis isi dari kode yang dari tadi di berikan si Aldy dan si Eka.
Halaaahhhhhh,,, ternyata dari tadi jawaban dari semua soal ini udah di kasih oleh mereka berdua.
Sontak dengan cepat, melebihi rambatan cahaya, fikiran dan tanganku mulai beradapatasi dengan cerita dan obrolan antara si Aldy dan si Eka.
Senyum saja, tak ada keringat dingin lagi yang membanjiri lekukan wajah dan ketiak ku ini.
Rona wajahku kembali berseri, lebih terlihat segar, pink di pipiku, dan bintik-bintik hitam di hidungku kembali terlihat jelas.
"Waktunya habis, silahkan di kumpulkan, Adi tolong ambil semua lembar jawaban teman-temanmu" Kalimat yang terlontar dari bibir seksi berwarna merah kebiruan milik Ibu Mira, memecah ke heningan kelas dan mengembalikan ku ke kelas setelah berada di sebuah taman penuh bunga, penuh suara burung yang bernyanyi, sebuah taman kebahagian yang begitu saja tercipta karena aku mampu menghalau semua serangan rumus dan soal yang terus-terus saja di hujamkan oleh lembar-lembar soal tadi.
Dan Bell tanda berakhirnya jadwal pelajaran ini pun berakhir, saatnya untuk memanjkan perut di kantin sana, di surganya para cacing perut yang sedari tadi terus berdemo meneriakan hak-hak nya untuk di beri makanan.

Bu Mira pamit untuk kembali ke ruangannya di depan sana, di ruangan para pencerah dan pemberi cahaya, pembuka jendela dunia untuk kita.

Aku, Eka dan Aldy segera berhamburan keluar kelas, begitu pula dengan teman-temanku yang lain, hanya satu saja yang gak keluar kelas, Amir.
"Bawain makanan aja, gw tunggu di sini, di tempat ini, di mimpi yang akan gua rajut" Jawab si Amir ketika kami ajak untuk ikut serta memanjakan perut-perut kami.
"Yaelah, molor mulu lagu lu mir" 
"HAAAIIIIIIIIII..............................." Sebuah teriakan di barengi tawa yang aneh terdengar jelas oleh kami, tidak mengagetkan kami, tidak pula menakuti kami, jika terdengar suara itu, tawa lah yang pasti akan muncrat keluar dari mulut kami, Juli Si pemilik suara itu. Mendengar suaranya saja kami sudah terpingkal-pingkal, apa lagi jika membayangkan kekonyolan apa saja yang sudah dan mungkin akan di lakukannya nanti.
Kami melihat ke arahnya, benar saja kami tertawa, melihat sesosok makhluk yang berdiri dengan gaya yang aneh, berpose mirip Elvys Presley akan berlagak di atas panggung. 

----=====--- Oktaria "Einstein" Juli ---=====------
Adalah Einstein bagi kami, pakar Fisika yang dulunya satu kelas dengan kami. Karena otaknya yang blink-blink tersebut, banyak kelas yang menginginkan dia menjadi penghuni tetap disana, hingga sampai pada suatu hari dia terpaksa meninggalkan kelas kami, hanya karena ke Egois-an yang mengatas namakan pendidikan dan pelatihan serta pengawasan, seorang guru yang juga berkecimpung dalam dunia tarik menarik, dorong mendorong dan sejenisnya memaksa dan melucuti kebebasan serta hak sang Einstein untuk tetap memilih kandangnya.
Selalu berlagak "kritis" dalam segala hal, apa saja yang dia lihat pasti menjadi suatu bahan pertanyaan dan selalu jadi bahan penelitian yang tak ayal membuat kami juga ikut berfikir keras memikirkan, apa, kenapa suatu hal tersebut terjadi.
Dia yang mengajarakan kami apa itu Ikhlas yang sesungguhnya, ikhlas yang bukan berarti pasrah bukan berarti malas pula.
Yang terlahir jauh di bawah kami, dengan kehidupan seadanya namun penuh dengan kebahagiaan atas kesederhanaan.

Bersambung...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Awal III

sampai pula di depan pintu kelas, riuh ricuh suara gaduh teman-teman yang sedang bercanda menyambut kami tanpa henti , entah apa yang mereka ribut kan, semakin gaduh setelah kami melangkah masuk ke dalam kelas yang sebenarnya lebih mirip camp pengungsian, ada yang menggelar koran bekas untuk tiduran, ada juga yang dengan sengaja merapatkan beberapa kursi untuk di tempati tidur.

"Aldyyyyyy" Lengking suara memecah riuh kegaduhan .
"Aldy sini, temenin Nenesy belajar matematika buat ulangan sekarang, ayoooooo...!!" Rengek manja cewek yang mempunyai nama lengkap Nesya Aura Pramadighta, salah satu Fans setia Aldy yang katanya sudah mengejar-ngejar dia semenjak Smp dulu, entah bagaimana caranya selalu saja dia satu kelas dengan si Aldy, dari  mula seragam putih biru, hingga putih abu sekarang ini.

"Adenya mak lampir manggil noh dy, samperin sana kekasih setiamu, kasihan, liat deh hidungnya yang pesek makin kaga keliatan kalo dia manyun gitu, ketutup bibir sama pipinya yang mekar" Ledek eka, aku pun sontak saja tertawa, aldy hanya monyong-monyong saja, entah kesal atau malu, atau mungkin senang ada fans setia nya yang udah hampir 5 tahun terus-terus saja nempelin dia.
"Apa lu ah, ambil aja buat lu kalo mau" Lalu aldy berlalu ke tempat duduknya sendiri.
Aku dan Eka hanya tertawa saja.

"aldddyyyyyyyyyyyy,, iiihhhhhhhhh" Lagi-lagi suara yang mungkin melebihi tujuh oktaf itu menggelegar.
"sini aja, bareng disini, gw mau belajar juga ko disini, bareng si eka ma si ipin, gabung aja" jawab Aldy sekenanya.
"Gggaaaakk maauuuuu, pokonya aldy cuman boleh belajar ama nenesy aja, gak boleh ada yang ganggu, TITIIIIKKKKKK."
"Ehh temen-temen, dengerin dulu, heeeyyyyyy aduuuh berenti dulu dong ngomongnya, berenti dulu, nenesy mau ngomong sebentar" Serentak yang lain pun berhenti bercanda.
"Mau apa sih nesy?" Tanya salah satu temen sekelas kami
"Gini loh, hari ini kan ulangan, kalian udah pada belajarkan?? nenesy kan belum belajar, nah pokoknya jangan ada yang ganggu nenesy nanti belajar ama Aldy, Okey???"
Anak-anak yang lain kembali berisik,  mungkin karena mereka pun tau itu cuman hal yang sama sekali gak penting untuk di perhatiin.
"iiiiiiiiiiiiiiiiihhhhh,,, Okey enggak sihhh??? jadi pokonya jangan ada yang ganggu kita, mengertii???? Iihhh pada denger ga sih???? atau perlu nenesy ulangin lagi dari awal??? Oke deh neney ulangin ya,, jadi...."

"NGERTII DAN PAHAM NESYA AURAAAAAAAA PRAMADIGHTA" Serempak mereka menjawab dengan nada datar saja.

Aku dan Eka cuman cekikikan kecil menahan tawa, merasa puas dengan penderitaan yang akan di alami si Aldy nanti.
"Selamat ya dy, selamat menikmati hidangan yang akan di sediakan adenya mak lampir nanti.." ledek ku di ikuti tawa si eka.
"Nah Dy bidadarinya mulai mendekat ke sini, senyum Dy, biar dia kaga kabur liat muke lu yang kusut, manyun gak karuan gitu, ayo dong senyum. wkwkwkwkwkwk"
"Tuh kan kata si..... eh siapa sih nama Loe? Oh iya Eka, nenesy kan bidadari kamu Aldy, jadi kamu harus baik-baik ke nenesy dong" ternyata ledekan si Eka buat si Aldy terdengar juga oleh si Nesya, yang di tafsirkan sebagai pujian dan dukungan kedekatan dia dengan si Aldy.
Si Aldy bungkam, gak ada satu kata bahkan huruf yang keluar dari mulutnya, masih saja menunjukan muka ke tidak sukaan nya jika dia di dekati si Nesya.
"ahhh Nasibb,,, gini nih kalo jadi banyak fans, kalo dapet fans sarap kaya begini, pusing jadinya gua" Gumam si Aldy pelan-pelan, mungkin karena takut si Nesya sakit hati kali, biar pun si aldy gak suka di giniin tapi tetep dia masih ngejaga perasaan si Nesya, alesannya sih takut merusak reputasinya nanti di kalangan para wanita. Halah.

Aku lirik jam yang ada di dinding kelas, ternyata sudah jam 08:18, harusnya pelajaran sudah di mulai, tapi entah kenapa Bu Mira, guru matematika kami belum juga sampai ke kelas, ah mungkin sengaja untuk memberi kan waktu lebih kepada kita untuk mengulang, setidaknya membaca pelajaran-pelajaran yang sudah pernah kita pelajari dulu.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengambil buku dari tas, tepatnya tas si Eka, soalnya aku memang termasuk orang yang sedikit berteman dengan malas, jadi kelengkapan catatan pelajaran di buku aku patut di pertanyakan.

Baru saja satu contoh so'al saya baca, belum sempat ke pemecahan masalahnya, Eka mengambil buku tersebut, dan memasukannya ke kolong meja. Aku bingung, kenapa dia ambil, padahal sedang semangatnya aku ini untuk belajar, jarang-jarang dan memang kejadian yang sangat langka terjadi.
"Udah deh ga usah belaga jadi orang pinter, pake belajar dulu, mending aktifin bluetooth hp lu deh sob" Dengan tampang yang sangat yakin kalimat dan perintah itu terucap begitu saja dari mulutnya si Eka.
"Lahh, elu ma si Aldy emang pinter, gua?? Sambutku yang emang kurang pintar di banding mereka berdua.
"Lah siapa yang bilang lu pinter?? Coba ulangin kata-kata gw tadi..!!" Jawab si Eka penuh ejekan.
 "Eh si Kuya, udah mana bukunya, gw juga pengen pinter kaya lu"
"Udah ga usah belajar, bego mah ya bego aja tetep, wkwkwkwkww,,"
"Setan lu Men..!!!"
"Udah percaya aja, sekarang ambil Hp dan aktifin Bluetoothnya, kita Maen Game Explode Arena aja, ehh tapi si Amir kemana ya? kok jam segini belum nyampe juga, apa hari ini dia absen ya?" Selidik Eka.
"iya ya, kemana tu bocah, kayanya takut dah ama ulangan matematika, makanya dia kaga masuk"

"Sembarangan, gua dari tadi disini..!!" Teriak si Amir yang gak rela dibilang kalo dia takut akan pelajaran matematika.

Aku dan Eka kaget melihat sesosok makhluk yang keluar dari bawah meja di belakang tempat duduk kita, keluar dengan rambut berantakan, mata merah, terlihat iler yang masih menggaris di ujung bibir bawah sebelah kiri.
"Waduh, gua kira lu belum nyampe sekolahan mir, dari tadi kaga keliatan lu, ngapain di kolong meja sana?" Tanya eka kebingungan "Ya elah kaga usah di tanya abis ngapain, liat aja matanya merah, rambut berantakan, dan yang udah pasti mengarah pada jawaban, itu iler di mulutnya masih ada" Jelasku pada si Eka.
"Iya gua abis tidur, semalem abis gantiin babeh gua ngeronda, penyakit asam uratnya kambuh lagi, mau ga mau dah gua gantiin beliau" timbalnya sambil mengelap iler nya denga tisu yang dia ambil dari meja di sampingnya gak tau tuh tisu bekas pake lap apa sama si cewek yang duduk di sebelah itu.
"Ah elu mah, ronda kaga ronda tetep aja emang tukang tidur, udah aktifin bluetooth lu, kita maen game, sambil nunggu bu Mira yang belum dateng-dateng dari tadi" Jawab eka.
"ssiiipppppppp" Serempak aku dan Amir menjawab.

----=====---Rifki "Amir" Amirudin---=====------
Sesosok sahabat yang boleh di bilang paling solid terhadap sahabat-sahabatnya yang lain, lahir dari keluarga yang teramat sangat disiplin, ibu nya pensiunan polwan dan bapanya sendiri mantan Pilot Angkatan Udara yang punya prestasi yang bagus di bidangnya, tapi sayang beliau terpaksa harus berhenti dari profesinya tersebut, karena pada saat si Amir ini masih smp, pesawat yang di kendalikan beliau hilang kendali, dan Jatuh di perkebunan teh, karena kecelakaan tersebut, mata beliau menjadi buta sebelah terkena percikan api yang merusak sel dan jaringan mata sebelah kanan nya. Beliau pun mengundurkan diri dari posisi nya sebagai Pilot di angkatan udara, dan memilih berhenti dari profesinya tersebut.
Meski terlahir dari keluarga yang sangat disiplin, sikap dsiplin tersebut sama sekali tidak menempel pada diri si Amir, mungkin penyakit malasnya yang kronis yang membuat sikap disiplin sama sekali enggan bergaul dengan si Amir.
Mungkin kalau dia pintar dan mampu merawat diri seperti si Aldy, dialah yang bakal menjadi Cassanova, secara tampangnya mirip-mirip artis FTV lah.

Sayangnya dia berbanding 180dari si Aldy kalau masalah penampilan dan kebersihan badan.

Bersambung



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Awal II

Laju kencang Bumble Bee menembus antrian panjang kendaraan menuju haluan utama, titik temu dimana dunia dan mereka yang ingin memperbesar otak bertemu.
"Brad, tadi ketemu ama cewek, super duper jutek, tapi kayanya bukan anak sini deh, entah dari dimensi mana dia lahir, ntu cewek manis sih tapi sayang kayanya berekor dan bertanduk!!!!" aku mengadu, membuka percakapan, memeceah bising suara kendaraan.
"Dih? Emangnya kenapa? Apa yang bikin dia terlihat jutek? Emang apanya yang berbeda hingga bisa berhipotesa kalau dia bukan dari dimensi nyata seperti kita?" sedikit penasaran namun kembali melanjutkan koma-kamit mengikuti alunan lagi laruku yang keluar dari lubang-lubang headset yang tertancap rapat di kuping kiri dia.
aku ceritakan semua kejadian yang terjadi dari mula aku naik angkot dengan supir yang tidak memiliki hati nurani dan pri kemanusiaan hingga tragedi tempe loncat ke buku milik pemenang miss Indonesia kategori muka terjutek.

"wkwkwkwkwkwk,, ya iya lah mana ada orang yang tak marah jika kejadian tersebut menimpanya, secara ada potongan tempe bekas lu, manusia pemilik bibir terseksi dari abad ke  9 hingga sekarang, mendarat di benda miliknya, entah apapun benda itu " ledeknya tanpa dosa.

"heuuhh kampret, bukannya ngebela malah mencela, kualat lu nanti" serapahku kesal.
"heeeee,, Pisss" timbal Eka dengan mengangkat dua jari nya sambil nyengir kuda, menunjukan barisan gigi nya yang ku akui sangat putih dan merata, layaknya barisan para petugas pengibar bendera saat Upacara 17-an di kecamatan tampat tinggalku, walaupun ada yang sedikit kuning karena kualitas air untuk mencuci baju seragam tersebut memang dari kali di belakang kampung.


Selamat tidak jadi telat, sampai juga di pintu gerbang dunia, bumble bee terus meliuk bermanufer hingga sampai ditempat parkir. Dengan pasti langkah kami terus tertuju pada ruangan dimana akan terjadinya pertempuran antara otak, hati, tangan, mata, telinga dengan lembaran kertas yang memiliki berbagai senjata dan jebakan rumus yang mampu membuat keringat mengucur deras, jantung berdetak kencang, otak terasa keram, sakit perut, susah duduk, kaki dan lutut bergetar, tangan kaku dan masih tersisa banyak efek yang di timbulkan dari so'al-so'al yang tercetak jelas di setiap lembarnnya nanti.
"Cuyy....!!!!!!!"
Ada suara yang sangat tidak asing memanggil, Aku dan Eka menoleh dengan serempak, aku ke kanan dan Eka ke kiri memperhatikan sisi luar kita yang berjalan berdampingan, tapi entah kenapa kami tak menemukan si pemilik suara itu.
"woyyy.." 
kami balik badan, ternyata dia ada di belakang, sudah tentu kami gak akan menemukan dia di kiri atau di kanan.
"lahhh", "aduhhh", refleks aku dan Eka,
Sesosok makhluk yang juga sepertinya lahir bukan dari alam kita muncul, dengan gaya rambut mirip-mirip Boy Band Korea, dengan 2 cewek di sampingnya.


--------=========---Aldy -Jadul- Rinaldi---=========-----------
Satu lagi sahabat, sejak kapan kami berteman, entah lah, sepertinya persahabatan itu muncul begitu saja, entah apa sebabnya saya tidak mau tahu, yang jelas persahabatan ini harus tetap saling menguatkan.
Seorang Cassanova kelas. Sebenernya tampang nya tidak begitu meyakinkan dan sama sekali tidak mendukung untuk menjadi seorang Cassanova, tapi nyali dan pede nya yang selangit, membuat dia di kenal dan terkenal bahkan termasuk 10 besar dari cowok paling Populer di SMA kami. Dengan bejibun prestasi yang di milikinya juga, pantaslah banyak cewek-cewek yang banyak meliriknya. Jadul adalah julukan dari salah satu teman sekelas kami, waktu dia terkena Razia kerapihan rambut, rambutnya di potong langsung oleh guru kesiswaan dengan style entah model apa, yang jelas jika di lihat seperti sarang lebah yang punya lubang di sana sini,  dengan sangat terpaksa dia memotong rambutnya dengan potongan yang sangat-sangat jadul karena gak ada gaya yang lain yang bisa menutupi anehnya serangan fajar yang tiba-tiba saja di lakukan Pa Ade terhadap rambutnya. Jadilah mirip potongan rambut kakek-kakek tua. Tapi tetap saja untuk seorang Aldy, itu malah menjadi anugerah tersendiri, potongan rambutnya yang aneh itu,  menurut para cewek malah menambah kesan lucu dan imut bagi dia. -Hahhh??? aneh kan-


"ladiesss, maaf nanti kita sambung lagi cuap-cuapnya, 2 pasien gw udah dateng, mereka ada konsultasi tentang bagaimana cara menaklukan hati para makhluk indah seperti kalian, maklum mereka itu kan jomblo terlantar yang butuh belas kasihan orang ganteng dan keren seperti gua, oke???"
Anjrit gayanya kaya taeek banget, sok cool.. aku dan Eka saling memandang karena jijik melihat tingkah sahabat kami yang satu ini.

"oke deh, nanti jam istirahat kita ke depan kelas lu ya aldy, pupyeeee....."  dua cewek yang entah kena racun apa dari si Aldy itu pun berlalu...

"sengak lu dy, gue udah punya cewek, noh si Ipin yang masih jomblo ngenes terlantar" Omel Eka.
 Aku cuman senyum aja, senyum sinis tepatnya sih.
"Loh kenyataaan, gak bisa kalian ngalahin kerennya gua, iya kan??? benerkan??? harus bener dong seantero sekolah ini pun sudah tau" Balas Aldy dengan gayanya yang sangat membuat muak.


bersambung.....



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisi Awal I

Duaarrr... Dentuman keras memekakan telingaku, sontak aku yang sedang tidur pulas kelabakan karna suara tersebut,"Anjreeettttt,,, ganggu tidur gw aja tu mobil.."  gumamku. Tempat tinggalku memang dekat sekali dengan jalur bebas hambatan namun sering terhambat,  betul Jalan Tol, bukan hal aneh lagi, jika ada ban mobil yang pecah di jalan tol, sering membuat aku terkaget-kaget, karena memang sangat jelas suaranya, apa lagi kalau suasana malam hari, makin lah terdengar keras.

Duarrrr ... Duarrr... Duarrrr...
kali keduanya aku loncat karna kaget,,, "watdefak?????"
"Wooyyyyy..... Bangunnnnn,,,, jam berapa ini, ampun males banget si lu jadi anak, mau sekolah kan luuuu????" teriak si emak. Ternyata suara dentuman yang aku kira suara Ban Mobil Container pecah adalah suara pintu kamar ku yang di pukul-pukul emak pakai ember.
Ritual yang di lakukan si emak setiap pagi hanya untuk membangunkan ku, anaknya -yang katanya super males-. Kalau begini caranya sih yang bangun bukan aku daong, mungkin para penghuni kuburan di ujung jalan kampung pun bakalan kaget, secara mereka baru saja istirahat setelah semaleman ber aktifitas.

Bukannya langsung bangun yang aku lakuin adalah ambil Hp, cek TL dan Notif Fb, kali aja ada cewe yang komen status aku atau ada yang mention aku di twit, maklum lah jomblo ngenes yang sama sekali belum pernah di pandang cewe, jangankan di pandang di lirik saja pun tak pernah, mungkin. Padahal tampang gak kusut-kusut amat, style Ok, rambut harajuku -katanya sih-, body ya ideal lah untuk ukuran orang Indonesia, hanya idung ku sedikit overload dan jidat yang melebihi kapasitas juga gigi yang sedikit mirip garpu daging, (lumayan kan ?).

"Whattt???" keringat dingin tiba-tiba saja mengucur deras dari Jidat lebar miliku terus mengucur hingga sampai di ujung hidungku yang besar, mataku terbelalak, bibir bergetar, tanganku tak kuasa lagi memegang Hp kesayanganku, sepertinya dunia mau runtuh, dan aku coba baca lagi Update status akun facebook teman sekelasku, meyakinkan apa benar yang aku baca tadi atau aku hanya salah baca, ternyata benar, hari ini ulangan matematika.!!!
Duuaaaaarrrrr... lagi suara pintu yang di lempar ember oleh emak. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambar handuk yang tergantung di pintu kamar  dan bermanufer langsung menuju kamar mandi -berhenti sejenak di dapur untuk melihat sarapan apa yang di sediakan emak tercinta- Aku yakin jika Dentuman Besar dari pintu kamar ku berkumandang, pasti waktu saat itu sudah melebihi pukul 7 pagi.

Arif---
panggil saja begitu, atau lebih banyak sahabat ku memanggil dengan Ifin (mungkin lebih tepatnya ipin). Seorang siswa dari Sekolah Menengah Atas di sebuah Kota, tanah Sunda, lumbung Padi nya Indonesia, Karawang. Hobby aku mencari hal baru, entah apa itu, baik positif atau pun negatif  -karena hidup butuh keseimbangan-, tergila-gila sama lagu dangdut hingga datang seorang teman baru yang menghancurkan kegilaanku dengan influence Harujuku yang katanya dia dapat dari pamannya yang tinggal di negeri tempat kelahiran Naruto dan Doraemon di sana, Jepang. Nomor sepatu 41, tinggi badan 171, berat badan 49, lingkar perut??? hah? lingkar dada??? perlu ya???


"mak.... arif brangkat, Asslamualikum" teriak aku sambil lari dengan masih menggigit sepotong goreng tempe ternikmat buatan emak.
Bak atlet marathon aku terus berlari menuju tempat di mana biasanya supir pribadi ku mangkal, sebuah mobil sejenis -mungkin- kijang berwarna biru dengan cat seadanya, terkadang karat ada di bagian mana saja, yaa, angkot.
"brakkk" suara pintu depan angkot yang aku ayun sekencangnya aga bisa tertutup rapat, " bang ayo bang jalan, kesiangan nih" hasut aku ke abang angkot "terus? gw peduli gitu? lo kira yang naek angkot gw lu doang???" anjret nih abang angkot, asem banget gak tau apa gw lagi buru-buru. Pucuk di cinta ulam pun tiba, dari kaca spion tampak se-onggok tumpukan besi berjalan menuju ke arah ku, 07, supir pribadiku yang lain datang, dengan sigap aku keluar dari angkot abang tak ber-Pri kemanusiaan tersebut. langsung cegat dan naik. tak peduli seberapa penuh dan tersiksanya nanti di dalam angkot, yang penting tak tersiksa karena telat ulangan. Istilahnya bersakit-sakit dahulu dan berpusing-pusing kemudian -halah- .

Akhirnya bisa duduk juga, Ku buka tas lusuh ku, Niatnya sih mau baca-baca sambil mengingat-ingat rumus yang sama sekali aku belum pernah ingat, tapi... perhatian ku tertuju pada bungkusan yang ada di dalam tas, sesuatu entah apa. Perlahan dan pelan aku ambil, sesuatu yang terbungkus rapih dalam balutan kertas koran bekas, apa ini?? waahhh... mataku berbinar-binar dan kemudian berkaca-kaca, terharu bahagia. TEMPEE GOREENNGG..... emak ku emang hebat dan paling mengerti. Sikat abis nih tempe, pikirku tanpa menghirukan apa yang terjadi di sekitar, dengan lahap aku gigit kemudian kunyah tempe itu hingga lupa apa sebenarnya tujuan utamaku membuka tas.

Jdaaaakkk.... "banggg, adduuhh, kira" dong kalo mau rem ngedadak gitu" menahan sakit,, kepalaku ke pentok dinding besi angkot.
Apa itu? pandanganku tertuju pada sebuah buku di lantai angkot, tertulis dengan jelas nama pemilik buku tersebut, ai......... ai apa ya? sisanya tertutup oleh tempe goreng miliku yang ikutan jatuh ketika si abang angkot berenti mendadak tadi.

"iiihhhh,,, jorok ahhhhh" sebuah suara manja membuyarkan konsentrasiku. refleks "duh maaf teh gak sengaja tempenya jatuh ke buku teteh" sambil mengambil dan membersihkan sisa tempe yang menempel itu.
"sini buku gw" timbal si pemilik buku jutek, sembari merebut paksa bukunya dari tanganku.
"yehhh biasa atuh teh, da saya ga sengaja. tuh si abang  yang rem mendadak tadi, saya juga ga mau tuh tempe di buang, mubaziir kata emak juga" jawabku
"suka-suka gw" ketus
"yaudah sihh,, yeeehh"
"........" pasang muka jutek.

Dari logat bahasanya sepertinya dia bukan asli Karawang, dari muka dan gaya berpenampilanya pun sepertinya asing dari pandanganku. Aku perhatikan lebih jelas, dari seragamnya pun terlihat jelas itu bukan seragam sekolah dari karawang, naluri detektif ku muncul, entah emang sifat penasaran ku yang terus haus hingga dalam pikiran terus ada rasa ingin tahu tentang itu cewe jutek.
"ipin" kaca angkot di ketok, segenap pikiran ku, tanda tanya besar tentang cewe tersebut berlarian entah kemana karena kaget. aku lirik dan cari dimana asal suara tersebut.
"Kamen" "bang stop bang" lempar duit serebu perak buat ongkos kemudian turun dan langsung menuju ke tempat si Eka -kamen- Permana menghentikan laju sepeda motor bebek kuning hitam yang dia beri nama bumble bee tersebut.

Dengan tawa lebar khas seorang sahabat menyambut gembira kedatangan ku dan siap membelah jalanan bersama menuju titik pecahan cita-cita berada.

--------========---Eka "kamen" Permana----========----------
cowok yang lahir satu tahun lebih muda dari aku, satu kelas denganku mulai semester awal kemarin ketika beranjak kelas 2. Seorang yang gila akan hal yang berbau jepang, entah itu komik anime, game, gaya berpakaian hingga di mempelajari bahasanya -sisi positifnya-. Dia lah yang menularkan virus-virus jepang itu  padaku, dan sahabatnya -yang benar-benar sahabat- yang lain. Lahir dari keluarga yang bisa di bilang lebih beruntung dari aku, Ibunya yang seorang guru, menjadikan dia pribadi yang sangat santun, sedikit pendiam -kalo menurut aku sih so cool padahal kaga ada sedikit pun tampang cool nya, hihihihi-

bersambung....



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS